Cincin Nikah Solo Dan Cincin Dari Akar Tumbuhan – Cincin nikah Solo cincin kawin dan tunangan couple custom dari bahan palladium emas perak 925 dan platinum adalah hal yang lumrah dan biasa digunakan dan menjadi salah satu elemen penting dalam pernikahan. Perhiasan tersebut dipercaya sebagai simbol terikatnya dua sejoli menjadi sepasang suami istri dan tidak sedikit yang selalu menyimpan sepasang cincin tersebut hingga masa tua mereka.

Di Solo membuat dan memesan cincin nikah Solo cincin kawin dan tunangan sangat mudah dan salah satu toko pusat pembuatan cincin dapat menerima pesanan dengan model couple dan custom sesuai dengan pilihan daripada konsumen serta pilihan bahan mulai dari emas palladium platinum dan perak 925. Salah satu toko pembuatan cincin tersebut adalah Latifa Jewelry yang merupakan cabang dari Latifa Jewelry Jogja yang sudah memiliki banyak cabang di berbagai kota seperti Jakarta, Depok, Bandung, Semarang, Magelang, Bontang, Bali hingga kota Makassar Sulawesi.
Latifa Jewelry sudah berjalan sejal lama dan memiliki banyak konsumen dari seluruh Indonesia dengan memberikan layanan dan membuatkan cincin dan beragam perhiasan lain dengan beragam model dan bahan. Tidak sedikit yang ingin dibuatkan dengan model yang mirip dengan cincin yang digunakan oleh beberapa artis yang viral diberbagai media. Segala layanan dapat langsung datang ke toko terdekat dari kota Anda dan jika terasa masih jauh atau tidak ada waktu untuk hal ini dapat saja langsung memesan secara online yang sudah sejak lama dilakukan oleh Latifa Jewelry. Secara teknisnya nanti akan diinformasikan oleh marketing atau costumer service dari tiap cabang Latifa Jewelry.
Beragam model dari cincin untuk dijadikan sebaga cincin nikah Solo cincin kawin dan tunangan oleh setiap mempelai. Tidak hanya dari bahan emas palladium palladium platinum dan perak saja yang digunakan seperti halnya beragam tradisi masa lalu yang belum mengenal makna dari bahan-bahan tersebut. Tradisi cincin kawin sebagai bagian dari upacara pernikahan telah ada sejak zaman Mesir Kuno alias sekitar 4.900 ribu tahun yang lalu. Di awal kemunculan tradisi ini, cincin kawin belum terbuat dari emas, perak, atau logam mulia seperti sekarang, melainkan akar tumbuhan.
Bahkan cincin kawin dulunya bukan hanya sebagai simbol ikatan pernikahan saja. Ada arti lain dalam penggunaan cincin kawin. Dalam ulasan serba-serbi cincin kawin di bawah ini akan mengulas tentang asal mula tradisi cincin kawin, sejarah cincin emas, makna dan fungsi cincin kawin, hingga mengapa cincin kawin disematkan di jari manis.
Bagi Anda yang kini tengah menyiapkan pernikahan, tidak ada salahnya untuk memahami fakta dari serba-serbi cincin kawin untuk menambah pengetahuan serta lebih bisa memahami simbol ikatan cinta ini saat memakainya.
Baca : Perbedaan Cincin Nikah Solo
Awal Mula Tradisi Cincin Kawin
Seperti yang telah disinggung di awal, cincin kawin mulai dipakai sejak zaman Mesir Kuno. Dulunya, cincin kawin terbuat dari akar rerumputan, berbeda dengan sekarang yang memakai emas atau logam mulia sebagai bahan dasar cincin.
Masyarakat Mesir Kuno akan merangkai akar rumput yang tumbuh bersama pohon papirus menjadi sebuah cincin untuk dipasangkan di jari manis pengantin perempuan.
Bentuk akar rerumputan dan rumbai yang dibuat melingkar, merepresentasikan lingkaran tanpa awal dan akhir yang diartikan sebagai keabadian.
Karena bahan cincin pada masa itu tidak tahan lama, maka mereka yang telah menikah akan beberapa kali mengganti cincin kawin, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Sejarah Cincin Logam di Zaman Yunani Kuno
Seiring berjalannya waktu, bahan untuk membuat cincin semakin beragam. Tepatnya pada era Yunani kuno, cincin nikah tidak hanya terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan namun juga kulit, tulang hingga gading binatang.
Pada masa kekaisaran Romawi, 27 tahun sebelum Masehi sampai 476 sesudah Masehi, mulai bermunculan cincin kawin yang terbuat dari logam. Dari sini, bentuk cincin kawin lebih dipersonalisasi sesuai dengan keinginan mempelai pengantin.
Bahan besi yang kuat dan tahan lama, dinilai cocok dengan simbol yang dibawa cincin itu sendiri dalam pernikahan yakni komitmen seumur hidup.
Alasan Cincin Terbuat dari Emas
Pada masa Romawi Kuno, orang-orang dari kalangan kelas atas akan mengenakan cincin emas dan perak karena dianggap punya nilai lebih mahal.
Selain karena sifatnya kuat dan awet, ada alasan tersendiri mengapa emas dijadikan sebagai bahan cincin. Usut punya usut, emas dianggap sebagai logam paling murni sehingga cocok untuk melambangkan ikatan pernikahan.
Cincin nikah Solo cincin kawin dan tunangan couple custom dari bahan palladium emas perak 925 dan platinum

Cincin Kawin Wajib Dipakai Pria
Berbeda dengan sekarang, para pria pada zaman Mesir kuno, Yunani maupun Romawi, menganggap cincin kawin wajib dipakai sehari-hari guna menunjukkan komitmen dan kesetiaan terhadap istri.
Terlebih pada masa itu, banyak pria yang harus meninggalkan rumah untuk berperang. Cincin kawin secara tidak langsung dijadikan sebagai pengingat sekaligus penyemangat bahwa sang istri menunggunya pulang ke rumah dengan selamat.
Cincin kawin tidak hanya berfungsi sebagai simbol ikatan pernikahan. Di awal kemunculannya, cincin kawin dianggap merepresentasikan kemapanan dan status sosial mempelai pria.
Dianggap Sebagai Alat Penyembuh
Bukan hanya simbol komitmen pasangan untuk menjalani biduk rumah tangga, cincin kawin juga pernah dianggap sebagai alat penyembuh luka atau penyakit. Kepercayaan ini berlaku di Irlandia pada abad ke-19, hingga Somerset.
Pada masa itu, masyarakat Irlandia percaya bahwa menggosokkan cincin kawin pada luka akan membuat luka tersebut sembuh.
Selain itu, mereka juga menggunakan cincin kawin untuk menghilangkan kutil. Caranya dengan menusuk kutil dengan duri gooseberry melalui cincin kawin.
Sementara di Somerset, masyarakat percaya bahwa menggosokkan cincin kawin pada mata yang sakit dapat menghilangkan infeksi.
Alasan Cincin Kawin Dipasang di Jari Manis
Di Indonesia, cincin kawin lazimnya dipakai di jari manis kanan sementara cincin lamaran di jari manis kiri. Aturan jari untuk cincin kawin sejatinya tidak mengikat, tergantung dari kepercayaan dan budaya yang dianut dalam suatu tempat.
Ambil contoh pada zaman Mesir kuno dan Romawi, cincin kawin dipakai di jari manis tangan kiri. Pasalnya, pembuluh nadi di jari manis terhubung ke jantung yang lazim disebut vena amoris atau vein of love.
Tradisi cincin kawin di jari manis kiri hingga kini masih berlaku di masyarakat di negara-negara Eropa Timur, Eropa Barat, sebagian benua Amerika, hingga persemakmuran Inggris.
Adapun pemakaian cincin kawin di jari manis kanan selain di negarra-negara Asia, juga dilakukan di negara seperti Bulgaria, Russia, Belanda, Polandia, Jerman, Venezuela, dan masih banyak lagi.
Sementara dalam tradisi Yahudi, cincin kawin disematkan di jari telunjuk mempelai perempuan.
Cincin Kawin Tidak Selalu Dipakai di Tangan
Tradisi mempelai pria menyematkan cincin kawin di jari tangan perempuan yang dinikahinya tidak berlaku di pernikahan umat Hindu.
Pasalnya dalam pernikahan umat Hindu, pengantin pria akan menyematkan cincin kawin di jari kaki mempelai pasangannya.
Baca : 5 Hal Tentang Cincin Nikah
Tradisi Tukar Cincin untuk Ulang Tahun Pernikahan
Rumania memiliki tradisi di mana sepasang suami istri yang merayakan ulang tahun pernikahan ke-25 atau kawin perak, akan melakukan momen tukar cincin lagi dengan cincin yang berbahan perak.
Lalu ketika pernikahan menginjak usia 50 tahun, pasangan di Rumania juga akan kembali bertukar cincin berbahan emas sambil mengulang janji pernikahan.

Cincin nikah Solo cincin kawin dan tunangan couple custom dari bahan palladium emas perak 925 dan platinum – Itulah serba-serbi cincin nikah Solo cincin kawin dan tunangan yang perlu diketahui dan awal dari cincin tersebut bukan hanya dapat dibuat dari bahan emas palladium perak dan platinum saja namun dapat dibuat dari berbagai macam hal yang ada. Berawal dari simbol keabadian, cincin kawin kini dianggap sebagai komitmen dan tanda cinta kasih sepasang suami istri yang berjanji akan selalu bersama sampai maut memisahkan.
Terakhir disunting : 4 years yang lalu..